identifikasi masalah dengan trait and factor

Juli 16, 2009

IDENTIFIKASI MASALAH DENGAN MENGGUNAKAN MODEL KONSELING
TRAIT AND FACTOR (TF)

Disusun guna terpenuhinya tugas mata kuliah DKB dan Pengajaran Perbaikan

Dosen Pengampu : Dra. Sutartie, SE, MM

Oleh : Nurul Jamroh
2006-31-028

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGDI BIMBINGAN DAN KONSELING
UNIVERSITAS MURIA KUDUS
2008

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Sebagai seorang guru pembimbing di sekolah hendaknya dapat memberikan pelayanan yang baik kepada semua siswa-siswinya, terutama saat memberikan layanan konseling individual. Dalam layanan konseling individual seorang guru pembimbing tidak hanya sebatas memberikan nasehat-nasehat atau saran kepada siswa-siswi yang bermasalah akan tetapi juga menekankan aspek pemahaman diri siswa, menjadi sahabat siswa untuk bersedia mendengarkan curahan isi hatinya, mencari tahu sebab-sebab permasalahan yang dihadapinya dan membantu memecahkan masalahnya tersebut sampai selesai.
Tentunya persoalan ini bukanlah persoalan yang mudah. Karenanya seorang guru pembimbing dituntut untuk memiliki berbagai macam keterampilan agar ia dapat menjalankan profesinya secara profesional.
Upaya untuk melaksanakan konseling individual dimulai dari tahap pertama yaitu identifikasi kasus sampai tahap akhir (follow up). Ada banyak sekali model-model konseling yang dapat digunakan dalam pelaksanaan konseling individual, salah satunya adalah model pendekatan konseling trait and faktor yang akan diuraikan pada makalah ini.

2. Identifikasi Masalah
Pada umumnya para siswa memiliki berbagai permasalahan yang kompleks dan tidak mereka sadari, seperti keterganungan kepada orang lain (Dependence), Kurang informasi (self-conflict), merasa tidak bermasalah (No problem), kecemasan dalam menentukan pilihan (choice anxiety), ragu-ragu/kekurang pastian (Lack of assurance), dan kurang keterampilan (Lack of skill). Masalah-masalah seperti terserbut diatas merupakan masalah yang dapat ditangani dengan menggunakan model konseling trait and factor.
3. Perumusan Masalah
• Apa saja tujuan model tait and factor ?
• Bagaimana cara pengembangan pemecahan masalah (konseling) dalam model trait and factor ?
• Apa saja teknik konseling yang digunakan ?
• Bagaimana proses/kegiatan konseling trait and factor ?
• Strategi apa yang dapat digunakan dalam konseling ?
• Seperti apa contoh percakapan (Verbatim) identifikasi masalah dalam model konseling trait and factor ?

4. Tujuan Penelitian
Untuk memberikan pemahaman tentang cara mengidentifikasi masalah dengan menggunakan model konseling trait and factor.
5. Fungsi Penelitian
• Pemahaman
Agar dapat memahami cara mengidentifikasi masalah dengan menggunakan salah satu model konseling trait and factor, serta cara melaksanakanya.

PEMBAHASAN

A. Pengertian Konseling Dalam Trait and Factor
Konseling merupakan suatu proses interaktif yang ditandai oleh suatu hubungan unik antara guru pembimbing dan siswa yang mendorong kearah perubahan siswa di dalam satu atau lebih area berikut : Perilaku, membangun pribadi, kemampuan untuk menguasai hidup agar supaya memaksimalkan kondisi lingkungan yang kurang baik, dan pengetahuan pengambilan keputusan dan keterampilan. Perubahan yang perlu untuk dilakukan meliputi : Perasaan, nilai/harga diri, tingkah laku, pola pikir berupa tindakan yang masih dalam pikiran, dan tindakan yang nyata/sudah terwujud.

B. Tujuan Trait and Factor (TF)
TF memiliki tujuan untuk mengajak siswa (konseli) untuk berfikir mengenai dirinya serta mampu mengembangkan cara-cara yang dilakukan agar dapat keluar dari masalah yang dihadapinya. TF dimaksudkan agar siswa mengalami :
• Self-Clarification / Klarifikasi diri
• Self-Understanding / Pemahaman diri
• Self-Acceptance / Penerimaan diri
• Self-Direction / Pengarahan diri
• Sel-Actualization / Aktualisasi diri

C. Pengembangan Pemecahan Masalah / Konseling TF
Upaya untuk membantu konseli mengungkapkan masalah yang dihadapinya, guru pembimbing dapat memilih cara-cara sebagai berikut :
1. Forcing Comformity / “memaksa” siswa untuk kompromi. Hal ini dilakukan apabila siswa dihadapkan pada satu hal yang di alaminya akan tetapi tidak ia inginkan.
2. Changing Attitude / mengubah sikap, meliputi cara berfikir, berasa dan bertindak. Jika sikap yang ditampilkan siswa menjadi penyebab timbulnya masalah yang ia alami maka sikap tersebut harus dirubah.
3. Learning the Needed skills / Belajar ketrampilan yang dibutuhkan. Siswa yang tidak memiliki keterampilan akan banyak mengalami kegagalan dalam mencapai tujuan yang diinginkannya.
4. Changing Environment / Mengubah lingkungan. Lingkungan yang tidak mendukung dalam mencapai tujuan akan menimbulkan masalah.
5. Selecting the Appropriate Environment / Memilih lingkungan yang tepat. Dalam keadaan tertentu pemilihan lingkungan yang tepat akan dapat membantu perubahan sikap dan perilaku yang diinginkan.

D. Teknik Konseling / Pemecahan Masalah
Dalam melaksnakan tahap pemecahan masalah guru pembimbing dapat melakukan teknik-teknik sebagai berikut :

1. Pengokohan hubungan baik / Establising rapport
Dengan menciptakan suasana yang hangat, bersikap ramah, dan akrab serta menghilangkan situasi yang bersifat mengancam.
2. Memperbaiki pemahaman diri / Cultifating Self-Understanding
Membantu siswa memahami dirinya meliputi kekurangan dan kelebihannya dan membantu mengatasi kelemahannya dengan memanfaatkan kelebihannnya.
3. Menasihati atau merencanakan program tindakan / Advising or planning program of action. Guru pembimbing dapat melakukan beberapa alternatif, seperti :
• Nasehat langsung
Hal ini dilakukan apabila siswa tetap berpegang teguh pada pendirianya/pilihan kegiatan yang diyakini oleh guru pembimbing, bahwa keteguhan siswa akan membawa kegagalan.
• Metode persuasif
Menunjukkan pilihan yang pasti secara jelas. Guru pembimbing menata evidensi secara logis dan beralasan, sehingga siswa dapat melihat alternatif tindakan yang mungkin dilakukan.
• Meode penjelasan
Guru pembimbing secara berhati-hati menjelaskan data diagnostik dan menunjukkan kemungkinan situasi yang menuntut penggunaan potensi siswa, karena penjelasan data diagnostik merupakan pemikiran yang hati-hati dan mendetail tentang implikasi data individu.

• Melaksanakan rencana
Membantu menetapkan pilihan atau keputusan serta implementasinya.
4. Melaksanakan rencana penyelesaian masalah / Carrying-out the plan. Program tindakan yang dibuat sesuai rencana dan telah disertai dengan dengan pengujian kelebihan dan kekurangannya, kemudian diikuti dengan pengambilan keputusan siswa.
5. Alih tangan kasus / Referall
Mengirimkan siswa kepada pihak yang lebih berkompeten dan berwenang jika guru pembimbing tidak dapat membantu menyelesaiakan masalah yang dihadapi siswanya.

E. Proses/Kegiatan Konseling Menggunakan pendekatan TF
Ada 6 (enam) tahap yang harus dilalui dalam konseling pendekatan TF, yaitu :
1. Analisis
Mengumpulkan data tentang diri siswa, dapat dilakukan dengan wawancara, catatan anekdot, catatan harian, otobiografi dan tes psikologi.

2. Sintesis
Merangkum, menggolongkan, dan menghubungkan data yang dipeoleh sehingga memperoleh gambaran tentang kelemahan dan kelebihan siswa.
3. Diagnosis
Menarik kesimpulan logis atas dasar gambaran pribadi siswa yang diperoleh dari hasil analisis dan sintesis. Dalam tahap ini terdapat tiga kegiatan yang dilakukan, yaitu :
• Identiffikasi masalah
Berdasar pada data yang diperoleh, dapat merumuskan dan menarik kesimpulan permasalahan klien.
• Etiologi (Merumuskan sumber-sumber penyebab masalah internal dan eksternal)
Dilakukan dengan cara mencari hubungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
• Prognosis (tahap ke-4 dalam konseling)

4. Prognosis
Upaya untuk memprediksi kemungkinan yang akan terjadi berdasarkan data yang ada.

5. Konseling (Treatment)
• Pengembangan alternatif masalah
Proses pemecahan masalah dengan menggunakan beberapa strategi
• Pengujian alternatif pemecahan masalah
Dilakukan untuk menentukan alternatif mana yang akan diimplementasikan, sehingga perlu diuji kelebihan dan kelemahan, keuntungan dan kerugian, serta faktor pendukung dan penghambat.
• Pengambilan keputusan
Keputusan diambil berdasarkan syarat, kegunaaan, dan fleksibilitas yang dipilih klien
6. Follow Up
• Hal-hal yang perlu direncanakan dari alternatif pemecahan masalah yang dipilih.
• Tindak lanjut dari alternatif yang telah dilaksanakan di lapangan.

F. Stategi Konseling
Tahap Awal (Definisi Masalah)
 Attending
 Mendengarkan
 Empati
 Refleksi
 Eksplorasi
 Bertanya
 Menangkap pesan
 Memberikan dorongan

Tahap Pertengahan (Tahap Kerja)
 Menyimpulkan masalah
 Memimpin
 Memfokuskan
 Konfrontasi
 Menjernihkan
 Memudahkan
 Mengarahkan
 Dorongan minimal
 Diam
 Mengambil inisiatif
 Memberikan nasehat
 Memberikan informasi
 Menafsirkan

Tahap Akhir (Action)
 Menyimpulkan
 Merencanakan
 Menilai
 Mengakhiri konseling

KESIMPULAN

kesehatan mental

Juli 16, 2009

Contoh perilaku orang yang memiliki kesehatan mental yang baik :
1. Merasa nyaman dengan dirinya sendiri :
Seseorang yang merasa nyaman dengan keadaan dirinya, tidak akan memiliki rasa rendah diri, ia akan mnerima keadaan dirinya tanpa merasa malu atau menghindar dengan oranglain.
Contoh : seorang pelajar yang memiliki postur tubuh yang tidak lebih tinggi dari teman-teman usia sebayanya, meski demikian ia tetap merasa nyaman dengan dirinya dan menerima keadaan fisiknya, sehingga ia mudah bergaul dengan siapa saja, hal itu membuatnya memiliki rasa percaya diri yang tinggi, sehingga ia tidak terissolir dari teman-teman sebayanya.
2. Punya spontanitas dan emosionalitas yang tepat :
Mampu menjalin relasi erat kuat dan lama seperti persahabatan komunikasi sosial dan relasi cinta. Dapat mengontrol diri sendiri penuh tenggang rasa terhadap pengalaman orang lain, dapat tertawa dan bergembira secara bebas dan mampu menghayati penderitaan dan kedukaan tanpa lupa diri.
Contoh : Ada seorang pebisnis yang handal, ia mampu berkomunikasi dengan relasinya dengan baik. Pada saat ia untung besar, wajar bila emosinya tetap stabil. Namun ada kalanya pada saat bisnisnya kurang beruntung banyak orang tidak bisa mengontrol emosinya, akan tetapi dia dapat tetap mengontrol emosinya dengan selalu ramah dengan relasinya mapun dengan karyawannya, karena ia mempunyai kesehatan mental yang baik dan selalu dapat menempatkan emosinya dengan tepat.

Contoh perilaku orang yang memiliki gangguan kesehatan mental :
1. Trauma : adalah luka jiwa yang di alami seseorang yang di sebabkan oleh suatu pengalaman yang sangat menyedihkan atau yang melukai jiwanya, sehingga pengalaman tersebut membuat hidupnya berubah secara radikal.
Contoh : Seorang mahasiswa sedang mengendarai sepeda motornya dengan sangat kencang, sehingga pada suatu belokan ia menabrak sebuah truk besar pengangkut balok-balok kayu, tanganya patah, motornyarusak, ia di larikanke rumah sakit, kemudian saat ia sembuh, ia menjadi selalu teringat peristiwa kecelakaan yang dialaminya,dan setiap ia melihat truk besar pengangkut balok-balok kayu ia dihinggapi perasaan takut yang sangat.
2. Agresi : ialah kemarahan yang meluap-luap, dan orang melakukan serangan secara kasar, dengan tidak wajar,disebabkan reaksi terhadap frustasi, berupa serangan, tingkah laku bermusuhan terhadap orangataubenda.
Contoh : seseorang yang frustasi karena di tinggalkan kekasihnya menikah dengan orang lain, yang mana orang lain tersebut adalah musuh baginya, kemudian ia melakukan serangan membabi buta pada saat pesta pernikahan kekasihnya digelar. Karena rasakecewa yang dalam ia melampiaskan amarahnya dengan agresinya.

Contoh keseimbangan mental yang berpengaruh pada kecerdasan :
1. seorang siswa yang memiliki kecerdasan intelejensi yang tinggi dan memiliki
keseimbangan dengan kesehatan mental yang baik. Pada saat ia mendapatkan nilai ulangan yang bagus, ia tidak terlena dengan prestasinya tersebut, ia dapat menguasai emosinya untuk tidak tinggi hati. Sewaktu ia mendapatkan nilai yang tidak memuaskan ia tidak berkecil hati dan putus asa, akan tetapi sebaliknya ia dapat mengontrol emosinya untuk tidak terpuruk dan menyerah. Ia semakin berusaha untuk menutupi kegagalannya, dengan lebih meningkatkan belajarnya.
2. Keseimbangan mental yang berpengaruh pada kecerdasan adalah pada saat seseorang dihadapkan pada suatu persoalan hidup yang berat. Artinya seberat apapun persoalan yang sedang dihadapi ia berusaha untuk menyelesaikannya dengan bijak. Dengan selalu bepikir positif dan menjaga emosinya. Seorang salesman sandal/ sepatu disuruh memasarkan produknya ketempat dimana komunitas orangnya masih jarang memakai sepatu. Jika pikiran negatif yang keluar ia akan berpikir susah untuk memasarkannya. Karena tidak ada orang yang akan memakai sepatu. Tapi karena ia punya keseimbangan mental yang baik maka kecerdasan berpikirnya timbul dengan berpikir positif, ia mengatakan: “Hebat..!! ini peluang yang luar biasa, jika saya berusaha untuk meyakinkan mereka bahwa sepatu itu bermanfaat bagi mereka mereka pasti akan tertarik dan mau membeli sepatu saya. sepatu yang saya pasarkan pasti akan laku dengan keras, laku banyak karena di daerah ini belum ada yang memakai ataupun menjual sepatu.”

Hello world!

Juli 16, 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!